Hakekat Cinta
Cinta banyak orang yang mengagung – agungkannya. Banyak pemuda dan pemudi yang sakit, senang, menangis, tertawa karena cinta. Sebenarnya apakah cinta itu ?
Cinta itu adalah sebuah persaan tertarik pada seseorang atau sebuah benda. Umumnya cinta banyak diucapkan oleh remaja untuk mewakili rasa suka/tertarik pada lawan jenis. Namun tak jarang orang yang sudah dewasa atau tua tetap memiliki cinta yang begitu besar. karena sesungguhnya cinta itu adalah perasaan yang alami dan pasti dimiliki oleh semua makhluk Tuhan.
Masa remaja menjadi sangat dekat dengan kata – kata cinta. Karena disinilah manusia mulai mencari jati dirinya dan mulai tumbuh perasaan tertarik kepada lawan jenis. Menurut ajaran Islam juga ada penjelasan mengenai cinta. Dalam Surat Ar – Rum ayat 22, yang menerangkan bahwa manusia diciptakan berpasang – pasangan. Itu berarti bahwa manusia diciptakan sudah disertakan cinta didalamnya.
Namun sekarang banyak remaja yang salah mengartikan cinta, banyak yang karena alasan menjadi terjerumus dipergaulan bebas. Cinta itu suci, namun orang yang mengartikan cinta sebagai nafsu belaka. Padahal pada hakekatnya cinta itu tidak butuh sedikitpun nafsu, walaupun terkadang didalam nafsu itu sendiri terdapat cinta. Cinta itu sudah cukup dengan dirinya sendiri seperti kata Kahlil Gibran :
“TENTANG CINTA SEJATI”
Apabila cinta memanggilmu, ikutlah dengannya,
meski jalan yang akan kalian tempuh terjal dan berliku.
Cinta takkan memberikan apa – apa pada kalian.
Kecuali keseluruhan dirinya.
Cinta takkan mengambil apa – apa dari kalian, kecuali dirinya sendiri.
Cinta tidak memiliki dan dimiliki, karena cinta telah cukup untuk cinta
…
Dengan kata – kata diatas seharusnya orang sudah mengerti bahwa cinta tidak bisa dijadikan alasan uuntuk melakukan hubungan sex diluar nikah ( sex bebas ). Namun sayang banyak remaja putri yang masih bisa ditipu dengan rayuan yang mengatas namakan cinta.
Bagi kita umat Islam sesungguhnya sudah jelas bahwa mencintai orang lain (lawan jenis) adalah suatu anugerah dan suatu hak yang hakiki. Namun tetap pada konteks keislaman, dengan tidak menjadikan perasaan cinta kita menjadi landasan timbulnya nafsu.
” Cintailah yang menciptakanmu (Allah SWT) diatas cinta – cinta yang lain, karena sedikitpun cintamu akan sia – sia. Mencintai-Nya adalah kewajiban kita. Dan rasakanlah cinta- Nya dalam kesehatanmu, kebahagiaanmu, kemuliaanmu, dan kepedihanmu”
Max_307